aku menghabiskan dua hari ini untuk menangis.
Pertama untuk kesalahanku akan sesuatu, kedua untuk sesuatu yang melukaiku, ketiga untuk respon yang tak diharapkan.
Sesenggukan hebat sampai sampai paginya aku enggan untuk kuliah dan akhirnya bolos kuliah pagi.
Semua orang memang berpotensi untuk melukai, termasuk juga aku. Namun melukai itu sering dilakukan dengan.....yaaah dengan tidak sengaja.
Hal ini membuatku enggan untuk membuka mata, hati, telinga. Aku membutuhkan sosok lain yang mampu menemaniku di kala kalut layaknya sekarang. Namun orang orang yang kuharapkan semua terhalang oleh kesibukan masing masing, bahkan jarak yang membentang.
Aku enggan bertemu mereka. Tanpa sadarnya, aku merasa terasingkan. Lihat saja saat berjalan kaki, duduk, atau...entah. sebenarnya aku bukan orang yang pandai membaca nonverbal orang lain. Namun aku menggunakan rasa. Rasa yang menurutku tak biasa.
Mencari satu yang pasti itu susahnya bukan main. Dea beruntung sudah menemukan Mbah yang bisa diandalkan dalam segala hal, begitu juga sebaliknya. Aku belum menemukan. Belum. Kapan?
Aku selalu sok mandiri. Sok apa apa bisa aku kerjakan sendiri. Padahal kalau ditelisik lagi, aku nggak bisa. Aku butuh sosok yang lain. Tak perlu kuantitas.
Namun, kualitas.
Follow Me
Showing posts with label story. Show all posts
Showing posts with label story. Show all posts
27 March 2014
03 February 2014
Sipit On Vacation : Malang part 2
Liburan kali ini lagi-lagi ke Malang, namun dengan tujuan yang berbeda
liburan kali ini dilakukan pada tanggal 30 Januari - 1 Februari 2014
Kita tak lagi menggunakan motor sebagai alat transportasi, melainkan naik mobil :D
horaaaay!
Day 1
Hanya saja pak bos (kembon) minta dijemput di Surabaya, gerbang ITS tepatnya
take a picture dulu otw menjemput pak bos
ceritanya liburannya cuman berenam, aku, mida, galuh, ojek, aji, dan pak bos (kembon)
pak bos mulai nyempil di tengah
Sesampainya di kediaman pak bos yang ada di river side, arjosari pukul 4 sore
kita semua istirahat terlebih dulu melihat kondisi kembon yang sepertinya kurang sehat
baru lanjut lagi menuju ke pos ketan yang ada di alun-alun batu pukul 8 malam
narsis dulu :))
Jadwal hari pertama segitu dulu, malamnya makan di ceker depan carefour kemudian pulang, rumpik.
Day 2
Rencana hari kedua yaitu bertemu dengan laut
ya! PANTAAAAAAIIII.........
berangkat kesiangan, jam 11 siang karena enggan untuk bangun pagi
narsis dulu, tetep
persahabatan bagai kepompong :))
rahasia kita terdalam adalah.......TONGSIS!!! Tongkat Narsis
tongsis sangat membantu kita semua dalam bernarsis ria
terima kasih buat mbaknya ojek yang telah meminjami kami dengan tongsis ajaibnya
:****
Berangkat Pantai....
karena hari ini hari Jumat jadi berhenti dulu di masjid buat jumatan
sembari nunggu, aku, galuh, mida narsis bareng deh di mobil
Kemudian lanjut lagi perjalanan panjang...
oke, Pantai Gua Cina, sampai juga pukul 4 sore dengan jalan yang super terjal.
Haiiiii Pantaaaaaaaiiiii :D
Hahaha, mencoba menjadi alay
aku, galuh
aku, galuh, mida
kembon si dragon ball
ojek
aku, aji
aku, mida
aku, kembon
Pantai Gua Cina :)
Next...
makan di Mie Jogging, Suhat
sayangnya lagi-lagi kembon nggak ikut turun, dia mendekam di mobil karena sakitnya kumat
gara-gara angin berlebih di pantai tadi
Day 3
Bangun pagiiiiiiiihhhh....
#ootd
hihihi :D
entah ini gaya macam apa
semacam senam pagi kepala doang kali yaw
sebelum pulang narsis dulu di jendela rumah kembon yang asik buat foto-foto :))
next...
taman safari cooy
di saat ngeblur itu menyebalkan --'
That's all
see you in the next vacation
loveyou all guys, terong dan cabe =))
♥♥♥
Labels:
friendship,
my life,
smile,
story,
vacation
14 September 2013
Melamar
begini ya yang namanya cari kerja?
seperti ini ya tes tulis cari kerja?
kayak gini ya interview kerja?
jadi, ceritanya kemarin malam aku ditelepon nomor yang depannya 089, hanya saja saat itu aku nggak sempet buat ngangkat karena sibuk banget evaluasi Commersale 2013 (event Ilmu Komunikasi 2012). aku pikir juga anak-anak commers sendiri yang kebetulan nomornya nggak aku kenal.
and then, malem jam 22.00 sampe jam 22.30 nomor itu telepon lagi. aku mengangkatnya.
"Halo..."
dan ternyata itu dari DetEksi yang nginfoin kalo aku lolos CV terus tes tulis sm interview hari sabtu jam 11 pagi.
Yak, cus!
aku speechless baca beberapa pertanyaan di halaman pertama. aku buntu.
aku jawab sekenanya.
hingga ada satu gambar doraemon dengan pertanyaan. "Kalo ketemu doraemon mau minta apa?"
aku minta pintu ajaib, bukan untuk melihat masa lalu, melainkan aku ingin melihat masa depan.
next
interview. aku memang lemah dalamm hal speak up. jadi dijawab sekenanya aja
pengalaman itu berharga. semoga diterima, Amin o:)
seperti ini ya tes tulis cari kerja?
kayak gini ya interview kerja?
jadi, ceritanya kemarin malam aku ditelepon nomor yang depannya 089, hanya saja saat itu aku nggak sempet buat ngangkat karena sibuk banget evaluasi Commersale 2013 (event Ilmu Komunikasi 2012). aku pikir juga anak-anak commers sendiri yang kebetulan nomornya nggak aku kenal.
and then, malem jam 22.00 sampe jam 22.30 nomor itu telepon lagi. aku mengangkatnya.
"Halo..."
dan ternyata itu dari DetEksi yang nginfoin kalo aku lolos CV terus tes tulis sm interview hari sabtu jam 11 pagi.
Yak, cus!
aku speechless baca beberapa pertanyaan di halaman pertama. aku buntu.
aku jawab sekenanya.
hingga ada satu gambar doraemon dengan pertanyaan. "Kalo ketemu doraemon mau minta apa?"
aku minta pintu ajaib, bukan untuk melihat masa lalu, melainkan aku ingin melihat masa depan.
next
interview. aku memang lemah dalamm hal speak up. jadi dijawab sekenanya aja
pengalaman itu berharga. semoga diterima, Amin o:)
27 July 2013
badmood
“Heh bro, lo tau nggak sih obat
bete itu apa?”
Eza mengerutkan keningnya. “Bete?”
Aksa menganggukkan kepala. “Iya,,
bete, bad mood. Lo tau nggak apa obatnya? Biar nggak bad mood lagi gitu
maksudnya.”
Eza mengangkat kedua bahunya. “Kenapa
emangnya?”
Aksa menghela napas panjang. “Gue
bingung deh sama Luna. Lo tau banget kan kalo gue itu sayang banget sama dia. Tapi
yang gue heran nih ya, dia hobi banget sama yang namanya bete. Dikit-dikit
bete, apa-apa bete. Lha kan gue jadi bingung kudu gimana. Apalagi kalo ditanya
gue harus gimana dia cuman bisa lempeng dan bilang nggak tau. Bete, kan?” Aksa
membuang napas keras-keras. “Gimana menurut lo? Gue harus apa biar dia nggak
bete terus?”
“Masalah lain kali?”
“Enggak, gue yakin nggak. Gue yakin
ada yang salah sama diri gue sendiri. Tapi gue nggak tau apa itu. Apa mungkin
respon gue ke dia salah ya?”
“Bisa jadi. Respon lo nggak
sesuai sama yang dia harepin.”
Aksa menaikkan sebelah alisnya. “Terus?”
“Dia bete waktu lo sama samaan
dia nggak?”
Aksa berpikir sejenak, kemudian… “Nggak
tuh, dia kalo bete pas gue nggak sama dia.”
“Kalo lo ketemu dia, dia bete
nggak?”
Aksa menggeleng cepat. “Nggak sama sekali. Dia sukanya ketawa mulu kalo sama gue.”
Aksa menggeleng cepat. “Nggak sama sekali. Dia sukanya ketawa mulu kalo sama gue.”
Eza menunjuk-nunjuk ujung hidung
Aksa. “Nah! Itu dia. Dia bete karena nggak ada lo di sampingnya. Bisa jadi,
kan?”
“Masa sih? Kan gue tetep kontakan
sama dia?”
“Nah itu dia! Dia butuh wujud
nyata lo di sebelah dia.”
“Lha kan gue bukan suaminya yang
bakalan selalu di samping dia?”
“Hmmm…” Eza manggut-manggut. “Bisa
jadi dia cemburu sama entah siapa yang ngehabisin waktu sama lo. Lo kan sering
main sama anak-anak, futsal kek apa kek. Dan lo inget dia sering nungguin lo
sampe kelar futsal tengah malem kan? Lo juga inget sampe dia ketiduran kan?”
Aksa manggut-manggut. “Apa bener
itu ya?”
“Bisa jadi.” Tangkas Eza. “Dia
butuh lo.”
“Mana bisa?” Aksa mengernyitkan
dahinya. “Kalo di logika nih ya, gue nggak bisa terusan di samping dia. Gue juga
punya dunia sendiri, temen-temen gue, keluarga gue misalnya.”
“Lo harus punya pengganti lo buat dia.”
“Lo harus punya pengganti lo buat dia.”
“Yang bener? Gue tergantikan
dong?”
“Bukan gitu, maksudnya semacem
permintaan maaf.”
“Gue harus…”
“Kasih apa yang dia suka..”
“Dia suka kalo gue ada di
deketnya, bro..”
“Yang dia pengen, es krim,
coklat, bunga, mungkin?” Eza menepuk bahu Aksa. “Lo harus kasih dia surprise
kecil-kecilan biar dia seneng dan selalu ngerasa ada elo di deket dia.”
“Terus?”
“Ya lo kasih aja ke dia kalo lo
ke rumahnya. Misal lo dateng terus kasih bunga, kan romantis. Lo harus bisa
jadi sosok yang romantis.”
“Apa iya harus gitu? Lo kan tau
sendiri gue bukan tipe yang kayak begitu.”
“Ya lo usaha, pe’a!” Eza menoyor
dahi Aksa.
Aksa manggut-manggut. “Kalo nggak
berhasil gimana?”
“Lo udah nyoba belom?”
“Belom.”
“Nah, jangan bilang nggak
berhasil kalo belom nyoba. Paham?”
Aksa manggut-manggut.
**
Bete. Bad mood.
Aku sering mengalaminya, terutama
sama Rama. Entah aku berasa jahat banget ngebetein dia.
Dan dengan sabarnya dia selalu
bilang “Maaf, aku harus gimana?”
Entah aku yang kurang bersyukur
mendapatkan sosoknya atau bagaimana, hanya saja aku selalu saja bete yang
sebenarnya aku tau penyebabnya.
Aku cemburu.
Ya!
Aku cemburu. Sebenarnya bukan
soal wanita yang lain. Hanya saja aku cemburu kalo dia selalu main sama
teman-temannya yang sebenarnya juga temanku. Aneh? Banget.
Aku iri.
Layaknya hari ini. hari ini aku
dari Surabaya sama Galuh. Entah fantasi harapan macam apa yang membuatku aka
nada sosok Rama yang menungguku di depan rumah Galuh berniat untuk menjemputku.
Akku tau itu tak mungkin terjadi. Rama manusia, dia sama sekali tak bisa tau
apa yang ada di angan orang lain, aku misalnya.
Hanya saja…….aku menginginkan hal
itu. Aku ingin Rama peka. Huf! Bodoh kan aku? Menyuruh seseorang untuk peka
namun entah aku sudah peka atau belum. Bahkan aku pikir aku sama sekali nggak
peka dengan keadaannya sekarang.
Aku : A | Rama : B
A : sori aku lagi bete badai,
daaah
Masih deliver. Aku berharap! Ya! Aku
selalu berharap Rama akan memberikan respon yang membuatku meleleh. Hmm seperti
B : lho… sayang bete kenapa? Maaf
ya sayang dan blablabla
Pada kenyataannya..
B : Yauda kalo gitu, daaaah
sayaaang :*
WHAT?!
Aku terharu, eh salah, aku sedih.
Secara logika, jawabannya memang
tak ada yang salah. Namun secara rasa….bisakah kau memahaminya jauh lebih dalam
apa yang tersirat?
Maafkan aku, sayang.
Subscribe to:
Posts (Atom)


